Sesi 1

Berpikir kritis adalah proses berpikir yang mengutamakan analisis terhadap suatu ide atau gagasan secara logis, reflektif, dan sistematis. Proses ini berguna untuk membantu kita mengevaluasi dan mengambil keputusan. Menurut Hendra Surya,1 berpikir kritis adalah cara berpikir yang aktif dan gigih untuk menggunakan berbagai pertimbangan dan sudut pandang yang cermat terhadap segala sesuatu yang kita yakini atau ketahui.

Selama ini, sistem pendidikan di Indonesia lebih bersifat top-down atau gaya bank2 , jika menggunakan teori dari seorang tokoh pendidikan di Amerika Latin, Paulo Freire. Sistem pendidikan seperti ini menuntut kita untuk menghafal berbagai materi pelajaran yang diberikan oleh guru, di mana guru dianggap sebagai pemberi informasi dan kita sebagai cawan kosong yang harus diisi informasi tanpa diajarkan cara menganalisis informasi tersebut. Sebagai akibatnya, kita lebih banyak dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan zaman seperti mencari kerja atau mempunyai keahlian yang siap pakai, tanpa diajari atau dibekali kemampuan untuk bersikap kritis terhadap zaman yang dihadapi.

Di tengah sistem pendidikan seperti inilah kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk menganalisis suatu informasi atau berita, salah satunya agar kita tidak terperangkap hoaks yang banyak tersebar di media sosial. Namun, berpikir kritis adalah sesuatu yang tidak selalu mudah dilakukan. Berpikir kritis membutuhkan latihan dan ketekunan agar kita bisa mengandalkan diri kita untuk menarik kesimpulan atas sesuatu di situasi-situasi tertentu. Untuk bisa berpikir kritis, kita juga membutuhkan keyakinan dan pengetahuan yang cukup agar bisa membuat kesimpulan secara obyektif dan tidak bias (berpihak).

Sesi 2

Berpikir kritis adalah hal yang sangat penting agar kita dapat mengolah informasi dengan lebih baik untuk menangkal hoaks dan terhindar dari provokasi. Tidak hanya itu, berikut adalah beberapa alasan kenapa kita harus berpikir kritis:

  1. Melatih daya berpikir kreatif. Dengan berpikir kritis, kita bisa menemukan lebih banyak pilihan atau alternatif kesimpulan dari informasi yang kita analisis. Adanya alternatif kesimpulan ini akan membuat kita lebih kreatif dalam mencari solusi terhadap sebuah permasalahan.
  2. Terhindar dari hoaks. Berpikir kritis membuat kita tidak langsung percaya begitu saja terhadap informasi yang kita dapat tanpa berusaha mencari sumber atau penjelasannya terlebih dahulu.
  3. Memahami masalah yang sebenarnya. Melalui pertimbangan yang cermat terhadap informasi dari berbagai sudut pandang, kita bisa memahami sumber atau mendapatkan penjelasan yang lebih menyeluruh dari informasi tersebut.
  4. Berpikiran terbuka dan tidak mudah terprovokasi. Berpikir kritis memastikan kita menyaring terlebih dahulu informasi yang kita terima dan tidak langsung membuat kesimpulan, sehingga kita didorong untuk berpikiran terbuka dan tidak mudah terpengaruh dalam merespon suatu informasi.

Sesi 3

Menurut Seifert dan Hoffnung,ada empat hal yang kita perlukan untuk dapat berpikir kritis, yaitu:

  1. Dasar-dasar logika,. yaitu kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif, dan merumuskan langkah-langkah logis lainnya secara mental dari informasi yang didapat.
  2. Ranah pengetahuan yang spesifik,. yaitu kemampuan untuk mengetahui informasi yang sedang didapatkan. Kita perlu memiliki pengetahuan tentang informasi yang sedang kita dapat dan apa motivasi dari informasi tersebut..
  3. Pengetahuan metakognitif,. Myang mengharuskan seseorang untuk memonitor informasi yang didapatkan untuk memahami suatu informasi, menyadari kapan memerlukan informasi baru, dan mengetahui bagaimana mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut.
  4. Nilai, keyakinan, dan watak. untuk melakukan penilaian secara berimbang dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan di dalam diri bahwa pemikiran yang dilakukan benar-benar mengarah pada pencarian kebenaran.

Sesi 4

Ada beberapa hal yang juga perlu kita lakukan untuk semakin mengasah kemampuan kita berpikir secara kritis, seperti:

  1. Mempertanyakan asumsi yang kita buat
    Disadari atau tidak, sering kali kita membuat asumsi terhadap setiap informasi yang kita terima. Asumsi ini terbentuk setelah otak kita memproses kepingan informasi yang kita dapat dan membandingkannya dengan pengetahuan kita. Asumsi adalah fondasi kita untuk berpikir kritis, namun kita harus sadar juga bahwa asumsi tidak selalu benar. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu mempertanyakan asumsi kita agar bisa mendapatkan informasi yang benar.
  2. Memahami praanggapan kita
    Penilaian kita pun sering kali sangat subjektif dan bias karena dipengetahui emosi, terutama ketika kita menolak informasi dari seseorang yang tidak kita sukai. Misalnya, kita bisa saja kita sering diberi informasi yang tidak ingin kita dengar, yang kemudian kita ketahui kebenarannya namun kita tolak untuk percaya karena sadar bahwa selama ini kita telah meyakini hal yang salah. Memahami praanggapan kita terhadap segala hal dapat membantu kita menyikapi informasi dengan lebih bijak.
  3. Memposisikan diri sebagai orang lain
    Membayangkan bagaimana jika kita berada di posisi orang lain sangat berguna untuk mengembangkan kemampuan kita dalam menganalisis motivasi seseorang dalam membuat dan menyebarkan informasi. Pengetahuan ini sangat berguna untuk melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, terutama dalam melihat informasi dan alasan di balik informasi tersebut.

Sesi 5

Latihan ini lebih asik kalau dilakukan juga sama temanmu. Kamu bisa saling ganti peran siapa yang menyampaikan informasi dan siapa yang akan mengkritisi informasi tersebut!

Pikirkanlah tentang suatu hal yang baru saja diberitahu seseorang kepadamu. Lalu, tanyakanlah kepada dirimu sendiri sejumlah pertanyaan berikut:

  • Siapa yang mengatakannya?
    Apakah yang mengatakan ini adalah seseorang yang kamu tahu? Seseorang yang memiliki wewenang atau kekuasaan? Apakah penting untuk tahu siapa yang mengatakannya?
  • Apa yang dikatakan?
    Apakah yang dikatakan adalah fakta atau opini? Apakah keseluruhan fakta ikut disampaikan? Apakah ada hal yang dilewatkan atau tidak katakan?
  • Di mana informasi itu disampaikan?
    Apakah informasi disampaikan di ruang terbuka atau tertutup? Apakah orang lain memiliki kesempatan untuk menanggapi atau memberikan alternatif dari informasi tersebut?
  • Kapan informasi itu disampaikan?
    Apakah sebelum, selama, atau sesudah sesuatu yang penting terjadi? Apakah waktu penyampaian berpengaruh terhadap kualitas informasi ini?
  • Mengapa informasi ini disampaikan?
    Apakah orang yang menyampaikan memberikan alasan dari informasi ini? Apakah informasi yang disampaikan membuat orang lain terlihat baik atau buruk?
  • Bagaimana informasi disampaikan?
    Apakah informasi disampaikan dengan gembira, marah, sedih, atau acuh tak acuh? Apakah mereka menuliskan atau mengatakannya secara langsung? Apakah kamu dapat memahami betul-betul apa yang disampaikan?

Selain mengasah kemampuan kita bertanya ketika mendapat informasi, kita juga bisa mengasah kemampuan berpikir kritis dengan menerapkan membiasakan diri melakukan hal-hal seperti di bawah ini:

  • Memberikan jeda untuk berpikir

    Luangkanlah waktu sebentar ketika kita menerima sebuah informasi, biarkanlah pikiran kita mengembara terlebih dahulu untuk mencerna informasi tersebut, rasakan sensasi dari pengembaraan pikiran tersebut.

  • Buatlah analogi sederhana

    Biasakan diri kita untuk membuat perumpamaan ketika mendapat informasi, bisa dalam bentuk cerita, simbol, atau fenomena alam. Seperti “Berita ini seperti kebakaran hutan - hanya membuat kita emosi dan tidak menghasilkan apapun selain rasa marah”

  • Buatlah mind-map

    Membuat mind-map adalah kebiasaan yang sangat bagus untuk dapat berpikir kritis. Hal ini bisa kita lakukan dengan membedah informasi yang kita dapatkan, seperti mencari tahu tujuan informasi tersebut dibuat, apakah menyerang seseorang, siapa yang dirugikan atau diuntungkan dari informasi tersebut, apakah informasi tersebut bisa berguna untuk kita, dan apakah informasi tersebut mengedukasi kita atau hanya membuat kita emosi, serta hal-hal lain.

  • Menulis 500 kata

    Biasakan menuliskan pemahaman kita terhadap informasi yang kita terima hingga mencapai 500 kata tanpa mengedit atau menyensor diri sendiri. Terkadang menuliskan kata-kata dari kepala kita ke sebuah kertas menciptakan lebih banyak ruang untuk kita berpikir dan menganalisis informasi

  • Berpikir seperti orang lain

    Cobalah bermain peran dan berpikir seperti orang lain. Tanyakan apa respon yang akan diambil orang lain ketika mendapat sebuah informasi. Misal respon seorang guru, respon orang tua, respon seorang presiden ketika mendapatkan informasi tertentu.

  • Pikirkan sesuatu yang bertentangan

    Coba juga untuk berpikir bertentangan, misalnya jika banyak orang biasanya berpikir A ketika mendapat informasi, kemudian bayangkan sebuah skenario di mana kita memikirkan hal yang sebaliknya.

Sesi 6

Latihan ini lebih asik kalau dilakukan juga sama temanmu. Kamu bisa saling adu argumen, kira-kira mana pernyataan yang opini, mana yang dapat dicek kebenarannya

Apakah kamu bisa membedakan mana opini dan mana yang fakta? Menurut kamu, apakah pernyataan “Shawn Mendez ganteng” adalah opini? Atau itu adalah fakta? Nah, supaya gak mudah ketipu kalau Shawn Mendez beneran ganteng atau ternyata jelek, kita bisa bermain permainan ini terlebih dahulu. Peraturannya sangat sederhana, namun kamu perlu satu teman untuk melakukan permainan ini. Intinya, kamu harus menilai apakah pernyataan di bawah ini merupakan opini atau fakta. Selain menebak, kamu dan temanmu secara bergantian harus menjelaskan mengapa pernyataan A adalah sebuah opini, dan mengapa pernyataan B adalah sebuah fakta.Berikut ini adalah pernyataan-pernyataan yang harus kamu identifikasi!

  • Ibuku adalah ibu terbaik di dunia.
  • Ayahku lebih tinggi dari ayahmu.
  • Nomor telepon saya sulit dihafal.
  • Bagian terdalam dari laut adalah sedalam 10.994 meter.
  • Anjing adalah hewan peliharaan yang lebih baik daripada kura-kura.
  • Merokok buruk bagi kesehatan kamu.
  • Delapan puluh lima persen dari semua kasus kanker paru-paru di Amerika Serikat disebabkan oleh merokok.
  • Main Mobile Legends itu menyenangkan.
  • Guru mata pelajaran Kewarganegaraan membosankan.
  • Mark Zuckerberg memiliki buta warna hijau dan merah.
  • Memiliki buta warna itu menyebalkan
  • Semua orang dengan kanker pasti menderita

Nah, apakah kamu berhasil mengidentifikasi mana opini dan mana fakta dari semua pernyataan tersebut? Jika ada pernyataan yang akhirnya membuat kamu berdebat dengan temanmu terkait kebenaran yang terkandung di dalamnya, bisa jadi itu adalah sebuah opini!

Melakukan hal-hal di atas bisa membantu kita untuk dapat berpikir kritis dan juga kreatif dalam menafsirkan sebuah informasi. Ingat, ini adalah latihan awal yang penting kamu lakukan sebelum mulai belajar bab lainnya dalam modul ini. Jadi, selamat mencoba!